maka tidak menggabung thoriqoh tijaniyah dengan thoriqoh lain juga tidak menggabung wirid thoriqoh tijaniyah dengan wirid thoriqoh lain.
2. yakin terhadapan syekh ahmad at-tijani serta senantiasa mencintai beliau. dan tidak mengkritisi beliau rodhiyallahu 'anhu.
sebagaimana wajib beradab kepada seluruh yang mempunyai hubungan/nasab yang sampai kepada beliau rodhiyallahu anhu, terutama kepada para pembesar khususiyah, apabila tampak dari diri seorang syeikh sesuatu yang menurut murid tidak sesuai syariat maka tidak mengapa bagi seorang murid untuk bertanya kepada syeikhnya dengan penuh adab dan penghormatan agar syeikh menjelaskan apa yang dilakukannya kepada murid tersebut dengan pandangan syariat.
sidi syekh ahmad bin muhammad at-tijani pernah ditanya : apakah engkau akan di dustakan? beliau menjawab : ya, apabila kalian mendengar sesuatu dariku maka timbanglah dengan neraca syariat, apabila sesuai maka amalkan apabila menyelisih syariat maka tinggalkan.
seorang syeikh terhadap muridnya berkedudukan seperti nabi muhammad SAW kepada para sahabat-sahabatnya karena seorang syeikh adalah pewaris dari baginda nabi besar Muhammad SAW, maka para ulama adalah pewaris para nabi. maka siapa yang ragu atau mencurigai terhadap apa yang dilakukan syekh atau apa yang dikatakan syekh maka sungguh ia telah mengkritisi syekh dan terangkat idzin daripadanya seketika. serta tidak tersambung antara dirinya dengan Ruhani syekh kecuali ia bertaubat dan memperbarui idzin dalam thoriqoh serta memurnikan cinta dan keyakinan terhadap syekh rodhiyallahu anhu.
3. senantiasa menjaga, mengamalkan wirid hingga wafat.
maka sungguh wirid-wirid lazimah dalam thoriqoh tijaniyah tidak diberikan kecuali kepada orang yang memang siap mentaatinya sepanjang hidupnya dengan sebab nadzar maka menjadi wajib atas dirinya. maka tidak diragukan pahal amalan wajib dilipatgandakan atas pahala amalan sunah 70X lipat. sebagaimana pada hadits tentang keutamaan bulan ramadhan dari salman al-farisi Radhiyallahu Anhu beliau berkata : berkhutbah kepada kami rasulullah SAW beliau bersabda :
من تقرب فيه بخصلة من خصال الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه و من أدى فريضة فيه كان كمن أدى سبعين فريضة في غيره.
Siapa yang mendekatkan diri kepada ALLAH SWT pada bulan tersebut dengan melakukan suatu amalan sunah seperti orang yang melakukan amalan wajib diluar bulan ramadhan, dan siapa yang melaksanakan amalan wajib di bulan tersebut seperti melaksanakan 70X amalan wajib di luar bulan ramadhan.
Sebagian ahli thoriqoh berkata : daripada sebab tingginya masyrab kami ialah kami di ganjar atas amalan kami dengan ganjaran amalan wajib. Dan bagi yang belum giganjar amalan wajib ( belum memasuki thoriqoh ) maka diganjar amalan sunah.
Siapa yang meninggalkan wirid hingga keluar dari waktunya maka hendaklah segera untuk mengqodhonya, adapun siapa yang meremehkan didalam wirid serta senantiasa membiasakan diri bermalas-malasan dalam mengerjakannya maka tercabut darinya izin dalam mengamalkan thoriqoh, karena meremehkan wirid sama saja dengan meremehkan pemilik wirid.
Sebagaimana sabda nabi muhammad Saw :
لا تعرب بعد الهجرة
Tiada kembali lagi kepada masa jahiliyah setelah hijrah
تعرب setelah hijrah pada zaman kita saat ini bisa dianggap sebagai murtad , sedangkan ta'arrub menurut para ahli tahqiq ialah kembalinya seseorang kepada tingkatan umum setelah menempuh tingkatan khusus.
Maka hal inilah yang membuat gagal seseorang yang telah mengambil thoriqoh dengan menempuh tarbiyah jalur khusus kembali lagi kepada jalur umum.
Adapun seseorang yang pada dasarnya belum mengambil thoriqoh akan tetapi ia memiliki cinta yang sempurna kepada sidi syekh ahmad at-tijani Radhiyallahu Anhu maka ia tergolong di dalam para pecinta sidi syekh ahmad bin muhammad at-tijani serta baginya mendapat juga 1 (satu) keutamaan dari apa yang di dapat murid-murid syekh ahmad at-tijani dan tidak ada kewajiban atasnya dalam mengerjakan wirid.
4. Menjaga perkara syariat baik secara ilmu, amal, dzhohir dan bathin.
Dan yang ping penting dari perkara ini adalah menjaga sholat 5 waktu secara jamaah apabila tidak terdapat udzur syar'i bersamaan dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya.
Serta sedikit-sedikitnya murid tijani didalam tuma'ninah adalah membaca 3 tasbih dalam rukuk serta 3 tasbih dalam sujud. Sebagaimana sabda nabi nuhammad SAW :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ الْأَهْوَازِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ وَأَبُو دَاوُدَ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ يَزِيدَ الْهُذَلِيِّ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ وَإِذَا سَجَدَ فَلْيَقُلْ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثًا وَذَلِكَ أَدْنَاهُ
قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ عَوْنٌ لَمْ يُدْرِكْ عَبْدَ اللَّهِ
Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Marwan Al Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir dan Abu Daud dari Ibnu Abi Dzi`b dari Ishaq bin Yazid Al Hudzali dari 'Aun bin Abdillah dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila kalian rukuk, maka ucapkanlah "SUBHAANA RABBIYAL 'ADZIIM" sebanyak tiga kali paling minim (kesempurnaannya). Apabila kalian sujud, maka ucapkanlah "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA" sebanyak tiga kali paling minimnya." Abu Daud berkata, "Ini adalah hadis mursal, sebab 'Aun tidak pernah bertemu dengan Abdullah.
Dan yang terpenting juga dari perkara syariat adalah berbakti kepada kedua orang tua, silaturahiim, tidak memutuskan hubungan dengan siapapun tanpa penjelasan wajibnya dalam syariat. Membersihkan anggota tubuh dari kemaksiatan seperti dusta, gibah, mengadu domba, berkata sia-sia serta menjaga pandangan dari yang diharamkan oleh ALLAH SWT. Juga membersihkan hati serta mengosongkannya dari penyakit-penyakit hati seperti riya, sum'ah, sombong, ghurur, serta merasa aman dari murka ALLAH SWT.
Setelah mengosongkan dari penyakit-penyakit hati kemudian mengisinya dengan rasa cinta, berharap, ridho, tawakkal, kepada ALLAH SWT.
Dan juga diwajibkan menjauhi perkara yang memabukan serta membahayakan seperti minuman keras , narkotika , serta tembakau.
Para pembesar thoriqoh tidak memberikan idzin thoriqoh kepada orang yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi tembakau kecuali apabila tampak bahwa mereka akan melepaskan dari mengkonsumsi tembakau dengan keberkahan mengambil thoriqoh ini sebagaimana yang telah dilakukan sidi thoyib as-sufyani bersama para jamaah. Dahulu mereka mengkonsumsi tembakau ketika mereka diberikan thoriqoh ini mereka melepaskannya seketika itu juga dan mereka bisa seperti itu lepas dari ketergantungan tembakau dengan sebab karomat dari guru kita sidi syekh ahmad bin muhammad at-tijani Radhiyallahu Anhu.
Dan di dalam ijazah sidi syekh ahmad at-tijani kepada sidi abdul wahab bin niyas :
dan jangan engkau berikan wirid ini kepada orang yang mengkonsumsi sesuatu yang kotor baik dengan menghirup, memakan, maupun meminum, dan hal tersebut juga seperti mengkonsumsi tanaman-tanaman kotor serta membahayakan seperti ganja, tembakau dan opium,
Akan tetapi berikan thoriqoh ini kepada peminum khamr , karena peminum khamr mengakui keharaman meminum khamer dan dapat diharapkan taubatnya berbeda dengan pengkonsumsi tumbuhan yang kotor serta membahayakan tersebut mereka secara besarnya tidak bertaubat dari apa yang mereka lakukan karena ketidak yakinan mereka terhadap keharaman tersebut.
Ditulis oleh : Darwesh
Diambil dari kitab : An-nur Fi At-Thoriqoh At-Tijaniyah
Karya : Sang Imam Syekh Sholahuddin At-Tijani