Dan orang mukmin yang terjatuh dalam kemaksiatan sebetulnya mukmin tersebut enggan untuk bermaksiat,
dan didalam kemaksiatan itu terdapat kebaikan, yaitu keadaan pelakunya dengan amal buruk hingga pada akhirnya ia akan termasuk dari orang-orang yang pada satu sisi beramal baik dan pada satu sisi lainnya beramal buruk, maka ALLAH SWT berfirman dalam surat attaubah ayat 102:
وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
maka pelaku maksiat tersebut memiliki kebaikan dari 3 sisi :
1. Masih memiliki iman
2. Ketidaksenangan tegelincir dalam kemaksiatan
3. Menyesal atas perbuatan maksiat tersebut.
maka orang tersebut beramal buruk dari satu sisi namun dari sisi lainnya memiliki kebaikan.
adapun firman ALLAH SWT :
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ
la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya (perolehannya) dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (perbuatanya).
Ini adalah kabar gembira dari ALLAH SWT sebagaimana menjadikan pelanggaran kejahatan sebagai اكتساب (perbuatan) dan menjadikan ketaatan sebagai كسب (perolehan), maka اكتساب (perbuatan) tidaklah ia memiliki hak(balasan) atasnya hingga engkau memang berhak mendapatkan balasan perbuatan buruk tersebut (siksa dengan sebab melakukan keburukan), namun jika engkau memang lebih berhak atas كسب (perolehan) amal baik (dengan melakukan kebaikan) engkau tidak layak dengan اكتساب (melakukan perbuatan buruk), dan hak yang didapatkan tersebut baik dari amal baik dengan pahala ataupun buruk dengan siksa tidak akan tertuju kecuali kepada orang yang memang benar-benar berhak menerimanya, maka اكتساب (perbuatan) melakukan keburukan adalah kesengajaan (perilaku baru) dan bukanlah perilaku murni,asli,awal dari orang tersebut
Di tulis oleh : Darwesh
Di ambil dari kitab : Al-kanz Fi Masail At-Tasawuf
Karya : Sang imam Sholahuddin At-Tijani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar